Japan Trip day #1 & #2

Alhamdulillah, itulah hal pertama yang diucap ketika menginjakan kaki di negri para samurai ini. Well yeah akhirnya saya sampai juga di Jepang. Angin dingin langsung menerpa wajah-wajah penghuni iklim tropis ini, ya saya dan 5 orang teman saya langsung menggigil ketika turun dari pesawat, suhu tercatat malam itu 7oC. Kami berenam mendarat dengan selamat di Bandar Udara International Haneda,Tokyo sekitar pukul 12 malam setelah menempuh perjalanan dari Jakarta – Kuala Lumpur – Tokyo sekitar 9 jam perjalanan. Jet lag? Tidak, saya sama sekali tidak mengalami Jet Lag, karena terlalu senangnya bisa menginjakkan kaki di Jepang. Saat itu subway sudah tidak beroperasi karena sudah terlalu malam, dan kami meninginap di bandara. Satu kata saat memasuki gedung bandara adalah  ‘WOW’, pelayanan imigrasi yang ramah dan high-tech serta kebersihan bandara tersebut (sudah pasti) tetapi yang membuat saya lebih menganga lagi adalah ketika masuk ke toilet, subhanallah banyak sekali tombol yang terdapat di WC tersebut, entah tombol mana yang harus ditekan karena keterangan penggunaannya pun memakai huruf Jepang, hahah sempat ragu untuk buang air kecil tapi apa boleh buat karena sudah kebelet saya pun bertanya ke teman saya yang sama-sama bingung dan akhirnya kami pun tertawa terbahak-bahak didalam kamar mandi.

berpose di KL sebelum melanjutkan penerbangan ke Tokyo

Red Carpet of Haneda International Airport, Tokyo

kursi-kursi tempat kami menginap😀

Pukul 05.00 pagi kami sudah siap-siap bergegas untuk meninggalkan bandara menuju distrik Asakusa (masih di Tokyo), karena kami sudah memesan penginapan disana. Kami naik subway yang mirip dengan Commuter Line di Jakarta hanya ini versi bagusnya saja. Kebingungan pertama muncul ketika membaca rute subway yg tertera begitu rumitnya, namun kami sudah sedia payung sebelum hujan, alias sudah menyiapkan buku panduan jadi kami tidak terlalu kebingungan membaca rute subway tersebut. FYI orang Jepang itu sangat sulit diajak berbicara dalam bahasa Inggris jadi harus menyiapkan segala sesuatunya sebelum keberangkatan supaya tidak terombang-ambing di Jepang.

mesin tiket dan rute kereta yg cukup rumit

Setibanya di Asakusa ternyata penginapan yang sudah kami pesan belum mengizinkan kami untuk check-in karena jam check-in yaitu pukul 3 sore. Sesampainya disana kami hanya menitip koper dan barang bawaan lainnya, setelah itu kami memulai petualangan.

mejeng pas nyampe Asakusa

Suhu di pagi hari cukup menggigit tulang, kami harus memakai sarung tangan karena terpaan angin cukup kencang. kami memulai petualangan dengan sarapan pagi disebuah kedai Ramen yang cukup ramai, harga yang ditawarkan berkisar 500 – 700 Yen atau sekitar Rp.55.000-80.000, harga yang cukup fantastis untuk sarapan pagi, tetapi porsinya cukup jumbo, jadi saya memutuskan untuk makan seporsi berdua, selain menghindari kekenyangan juga pastinya untuk menghemat uang. Setelah perut terisi, dengan semangat 45 kami memulai petualangan hari pertama ini di distrik Asakusa – Tokyo ini, pertama kami mengunjungi Sensoji Temple yang letaknya tidak terlalu jauh dari penginapan kami, hanya berjalan kaki kira2 1 km, FYI, jalan kaki di negara ini sangat amat nyamann, sangat recommended, jalan-jalan yg bersih, udara yg sejuk dan tidak ada polusi udara seperti di jakarta. sesampainya di Sesnsoji Temple ternyata sudah ramai disana, langsung saja tanpa banyak bicara kami langsung berfoto-foto dengan rusuhnya.

persis didepan pintu masuk Sensoji Temple - Asakusa

persis didepan pintu masuk Sensoji Temple – Asakusa

Sensoji Temple ini terdiri dari beberapa bangunan, saya sendiri tidak sempat menanyakan apa saja nama-nama dari bangunan-bangunan tersebut, disini banyak juga orang yang datang bukan untuk wisata melainkan untuk beribadah. Disekitar sensoji Temple ini banyak terdapat pertokoan yg menjual berbagai macam souvenir, makanan, pakaian,sepatu,dan lain-lain. deretan kios yg sudah pasti tertata dengan rapi dan apik.

pertokoan disekitar Sensoji Temple

oke setelah puas mengelilingi Sensoji Temple dan jalan-jalan mengelilingi pertokoan-pertokoan itu kami melanjutkan petualangan menuju Tsukiji Fish Market, pusat pasar ikan terbesar, untuk menyicipi sushi-sushi super fresh. perjalanan ke Tsukiji Fish Market ditempuh dengan subway train selama kurang lebih 1 jam. sesampainya disana bau ikan langsung tercium dengan anyirnya dan kami langsung hunting restoran sushi, tapi berhubung saya sendiri tidak menyukai sushi jadi saya hanya celingak celinguk saja hahah. disini banyaakkk sekali restoran sushi (yaiyalah) kami pun tidak sulit memilih langsung nyelonong ke salah satu restoran karena memang sudah jamnya makan siang. Harga sushi ini seperti bisa ditebak sangat mahal, seingat saya sepiring kecil sushi berisi 2 gulungan nasi+salmon itu harganya sekitar 800 yen (Rp.88.000) woohoo, ada juga menu besar berisi berbagai macam sushi seharga 2500 Yen (Rp.275.000) yang bisa dimakan beramai-ramai, dan karena saya tidak doyan saya sudah sedia payung sebelum hujan alias sudah bawa bekal lauk dari indonesia, yaitu ‘Kering Tempe dan Kentang’ jadi saya hanya memesan nasi semangkuk. Dan bisa anda tebak nasi putih semangkuk kecil harganya 200 Yen alias Rp.22.000 *hampir pingsan pas bayar* hahaha.

penampakan toko ikan di Tsukiji Fish Market

Koki-koki pembuat Sushi (rapih benerr yaa pake dasi segala)

mahalnya segini

okey kenyang dengan sushi kami lanjoot lagi pulang ke penginapan, untuk check-in dan mandi-mandi.. guest house yang kami pesan ini sangat terkenal bagi para backpacker yaitu Khaosan Tokyo Samurai,dengan harga yang kalau di rupiahkan jadi tidak murah ini kami menyewa 2 kamar, 1 kamar berisi 4 tempat tidur dengan harga 10.000 Yen (Rp.1,1 juta) dan 1 kamar berisi 2 tempat tidur dengan harga 6000 Yen (Rp.660 ribu). setelah mandi-mandi dan istirahat sebentar kami melanjutkan jalan-jalan ke pusat kota Tokyo, Shibuya dan Harajuku street.

Shibuya adalah salah satu distrik yang cukup terkenal dengan gedung2 berlampu & berlayar besar. kaya yang suka kita tonton di serial atau film jepang. keren banget meennnn..

Shibuya

Shibuya

friend of mine in front of Harajuku street

friend of mine in front of Harajuku street

Harajuku street ini, seperti namanya, adalah tempat sederetan toko-toko pakaian dan aksesoris ala Harajuku, dari pakaian,sepatu,topi,dan lain-lain. pengunjung yang datang pun adalah para penduduk Tokyo yang menganut fashion style harujuku tersebut, jadi kalian bisa menikmati pemandangan manusia-manusia jepang lengkap dengan gaya harajuku nya, dari yang masih bisa ditolerir mata sampai yang terlihat seperti bukan pakaian manusia pun ada. haha.. setelah belanja-belanja sedikit oleh2 kami pun pulang ke penginapan untuk menyiapkan diri melanjutkan petualangan esok hari nya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s